Langsung ke konten utama

12 PRINSIP KEPEDULIAN



Oleh Jemy V Confide

Konon, dikisahkan, pada suatu senja di tepi pantai, Xenna berjalan-jalan bersama seorang ratu di tepi pantai. Sang Raja yang dikenal lalim dan kejam tengah terbaring sakit-sakitan menanti ajalnya meskipun aura kekejiannya tidak juga memudar. Sementara itu, Sang Ratu tengah menulis sebuah kitab kebijaksanaan (book of wisdom) yang diharapkan menjadi tuntunan hidup bagi seluruh rakyatnya. Buku itu berisi keteladanan-keteladanan dan kebaikan-kebaikan dan kebaikan yang harus dilakukan oleh seluruh rakyat di kerajaan tersebut. Terang saja, buku itu ibarat setetes air di tengah padang pasir bagi rakyat yang hidup di bawah kekejaman seorang raja yang lalim. Aneh bin ajaib, sang ratu mengumandangkan bahwa penulis book of wisdom adalah suaminya dan bukan dirinya. Menyaksikan keganjilan tersebut, Xenna, sang pendekar, dengan kritis bertanya, “Ratu, Anda yang menulis kitab ini dengan susah payah tetapi kitab ini akan dikenang sebagai karya dari suami anda. Apa untungnya bagi anda?” Sang ratu dengan senyumnya yang bijak menjawab “Yang beruntung adalah semua rakyat negeri ini karena mendapat kitab yang sangat berharga. Tidak penting siapa yang menulis kitab ini. Yang penting adalah kitab ini dibaca dan diamalkan oleh seluruh rakyat negeri ini”. Sungguh suatu sikap yang luhur yang diperlihatkan oleh Sang Ratu. Suatu sikap yang hanya dimiliki oleh seseorang yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap negerinya. 


Beberapa waktu yang lalu, televisi-televisi kita cukup rajin menggelar realityshow. Beberapa di antaranya cukup menarik untuk disimak dan bahkan sangat berbobot karena menyentuh nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, Salah satunya adalah tentang memberikan pertolongan. Dalam salah satu realityshow diaturlah skenario dimana seseorang yang merupakan aktor dari pembuat realityshow tersebut berada dalam kesulitan dan berusaha meminta tolong kepada orang-orang di sekitarnya. Seperti sudah diduga, kebanyakan orang yang dimintai tolong akan menolak dan bahkan menghindar. Hal ini sangat masuk akal karena setiap orang punya kesibukan dan kepentingan masing-masing tentunya. Belum lagi resiko menajadi korban penipuan atau bahkan tindak kejahatan lainnya. Siapa yang mau mendapat masalah bukan? Setelah si aktor meminta tolong ke sana kemari dan tidak mendapatkan pertolongan yang dia cari, sang penolong yang dinanti-nantikan akhirnya datang juga. Uniknya, seringkali sang penolong adalah orang yang tidak disangka-sangka. Mereka biasanya adalah orang-orang yang secara ekonomi pas-pasan atau berkekurangan. Bahkan tidak jarang para penolong ini memiliki kekurangan secara fisik jasmaniah meskipun hal tersebut tidak mengurangi kemuliaan hati mereka. Sungguh orang-orang yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi. 

Dunia ini akan menjadi indah bila dihuni oleh orang-orang yang peduli. Demikian kata Sang Pujangga. Memang benar, “peduli” adalah sebuah kata yang sudah sangat sering kita dengar dan bahkan kita ucapkan. “Aku peduli”. Demikian seorang pria berusaha meyakinkan kekasihnya. “Emang siapa yang peduli?” Seorang anak remaja membalas ledekan temannya. Bahkan para pucuk pimpinan sering juga mendengungkan kepedulian. Tetapi apakah kita sudah benar-benar memahami arti kepedulian? Terlebih lagi, sudahkah kepedulian menjadi karakter kita yang mewarnai kehidupan kita sehari-hari? 

Kata “peduli” atau “kepedulian” memiliki spektrum yang luas. Dua ilustrasi di atas membuktikan kepada kita bahwa “kepedulian” tidak memandang strata atau kedudukan. “Kepedulian” bisa dimiliki oleh seorang ratu tetapi juga bisa dimiliki oleh seorang pedagang minyak keliling yang memiliki handycap untuk berjalan. “Kepedulian” juga merupakan sesuatu yang melimpah sehingga ia bisa hadir dimana saja dan kapan saja dan tidak menjadi berkurang karena kita memberikannya kepada orang lain. Namun disitulah letak kelemahannya. Karena begitu luasnya spektrum “kepedulian” maka maknanya bisa menjadi kabur tanpa kita sadari. Karena begitu berlimpahnya “kepedulian” maka kita mengabaikannya dan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang sudah semestinya (take it for granted). 

Karena kedua alasan tersebut di atas, maka “kepedulian” bisa menjadi sesuatu yang langka dan mungkin saja punah dari hati nurani manusia. Sebelum hal itu benar-benar terjadi, kita perlu melakukan upaya-upaya yang diperlukan untuk melestarikan “kepedulian”. Salah satunya adalah dengan menggali kembali prinsip-prinsip yang terkadang dalam “kepedulian”. Dalam perjalanan menemukan kembali arti “kepedulian”, saya melakukan pengamatan terhadap orang-orang yang menurut hemat saya telah memperlihatkan sikap peduli. Hasilnya saya mendapatkan dua belas prinsip berikut ini: 
  1. PEDULI BERARTI MEMBERI PERHATIAN kepada hal kecil yang mengakibatkan dampak besar (dan bukan memberikan perhatian kepada hal besar tetapi memberikan dampak kecil).
  2. PEDULI BERARTI BERKOMUNIKASI dengan orang yang disayangi meskipun dialog yang dilakukan sepertinya tidak berjalan dengan baik.
  3. PEDULI BERARTI MENGERTI situasi orang yang disayangi meskipun orang tersebut tidak menyadari situasi yang sedang dihadapinya.
  4. PEDULI BERARTI MELAKUKAN TINDAKAN DENGAN SEGERA pada kesempatan pertama dan bukan sekedar berkhotbah belaka.
  5. PEDULI BERARTI MEMBERI KENYAMANAN terhadap orang yang disayangi bahkan pada saat-saat yang paling sulit sekalipun.
  6. PEDULI BERARTI PANJANG KASIH DAN SABAR serta memberikan bimbingan kepada orang yang disayangi untuk menemukan dan mencapai tujuannya.
  7. PEDULI BERARTI BERBAGI bahkan untuk hal-hal yang paling berharga sekalipun sesuai kebutuhan orang yang disayangi.
  8. PEDULI BERARTI KOMITMEN JANGKA PANJANG bahkan ketika orang yang disayangi sudah tidak ada lagi.
  9. PEDULI BERARTI MEMAAFKAN bahkan untuk hal yang paling menyakitkan sekalipun demi tujuan yang lebih mulia.
  10. PEDULI BERARTI PERCAYA terhadap orang yang disayangi, terhadap diri sendiri dan terhadap visi bersama.
  11. PEDULI BERARTI MENYUCIKAN diri dari kepentingan pribadi.
  12. PEDULI BERARTI MENCITAI. Cinta harus memilih tetapi sekali keputusn telah dibuat, tidak ad dalih lagi untuk berhenti mencintai.

Bayangkan bila kita menerapkan ke-dua belas prinsip kepedulian tersebut dalam hidup kita. Bayangkan bila hal itu kemudia menginspirasi orang-orang di sekitar kita untuk juga melakukannya. Bayangkan bila akhirnya bangsa ini menjadi bangsa yang ulung dalam menerapkan ke-dua belas prinsip kepedulian tersebut. Sungguh sebuah negeri yang indah bukan? Sebuah negeri yang sudah mengkah ke tahap peradaban yang lebih tinggi dalam sejarah umat manusia. Benar kata Sang Pujangga, dunia ini akan menjadi indah bila dihuni oleh orang-orang yang peduli. Semoga kita bisa lebih peduli! 

“Kepedulian” juga merupakan sesuatu yang melimpah sehingga ia bisa hadir dimana saja dan kepan saja dan tidak menjadi berkurang karena kita memberikannya kepada orang lain. 

AND

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAMUS BUKU ALKITAB

Abib lihat Bulan. Abraham atau Abram Berasal dari Ur- Kasdim di Mesopotamia Selatan; dipang­gil untuk memasuki tanah Kanaan, di mana Allah mengadakan suatu perjanjian dengan dia. Bersama-sama dengan Ishak dan Yakub ia diakui sebagai nenek mo­yang bangsa Israel (Kej. 12-25). Dalam Perjanjian Baru diakui sebagai bapa "se­mua orang percaya” (Rm. 4:11). Adar lihat Bulan. Agripa Herodes Agripa II, keturunan Herodes Agung, raja di Palestina Utara (Kis. 25:13-26:32), bd. Herodes. Agustus Kaisar Romawi yang memerin­tah dari tahun 27 Seb. Mas. sampai tahun 14 Ses. Mas. (bd. Luk. 2:1). Ahli Taurat Pengajar dan penafsir Per­janjian Lama, khususnya kelima kitab Musa (Taurat atau Pentateukh). Aleluya lihat Haleluya. Alkitab lihat Kitab Suci. Amin Kata Ibrani yang berarti: pasti! sungguh! benar! Anak Allah Israel disebut anak Allah atau anak sulung Allah (Kej. 4:22-23; Hos. 11:1). Demikian juga raja Israel, keturunan Daud (2Sam. 7:14; Mzm. 2:7). Tetapi

Guru PAUD yang menginspirasi dari Kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur

  anedjara.com - Ata Milla Meha, S.Pd. adalah seorang PAUD di Kabupaten Sumba Timur yang menginspirasi banyak orang sampai pada tingkat nasional. Profil yang bersangkutan pernah dipublikasi dalam kegiatan Konas Gereja dan Pendidikan Kristen di Indonesia yang diselenggaran oleh Majelis Pendidikan Kristen bertempat di Grand Empire Palace Hotel, Surabaya. Beliau terpilih menjadi salah satu Guru Pahlawan (berdasarkan kriteria dari Yayasan Trampil Indonesia). Ibu Ata menyelesaikan studi S1 PGPAUD dengan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) dari Universitas Terbuka dan disponsori oleh Yayasan Trampil Indonesia dalam kesehariannya, selain sebagai pendidik di PAUD, juga sebagai istri pendeta dan juga petani di daerah yang sulit dijangkau berkaitan dengan akses (jalan).  Ibu Ata Milla Meha menjabat sebagai Kepala Sekolah/Pengelola PAUD di KB Adjarmanu 51 Wairara semenjak PAUD itu didirikan. Satuan Pendidikan tersebut telah memiliki NPSN dan terakreditas B. Mengawal satuan pendidikan untu

Melatih mental Direktur Cilik Aba Djara Ane dalam memasarkan barang dagangan

anedjara.com - Selasa, 25 April 2023 menjadi salah satu momen bersejarah bagi Aba Gladly Djara Ane yang sering disapa Aba . Usianya 6 tahun lebih dan bersekolah di PAUD Adjarmanu 5 Padadita. Ceritanya dimulai dari sini.  Malam saya diajak oleh bundanya Vica ke ATM untuk mengambil uang karna tidak ada lagi uang cash di tangan. Akhirnya saya, Rambu Gita, Aba dan bundanya mencari ATM terdekat dan berhasil menarik uang cash. Selepas dari ATM (dekat Polres Sumba Timur), anak-anak meminta untuk dibelikan sesuatu. Saya menekan pedal gas mobil pickup menuju taman kota Waingapu (ikan lumba-lumba). Di taman tersebut, saya, Rambu Gita dan Aba duduk sambil bermain menikmati malam dan hiruk pikuknya kendaraan. Setelah bundanya selesai belanja donat di Kings Bakery, datang pedagang pisang. Setelah tawar menawar, dibeli 2 sisir. Entah apa yang ada di kepala bundanya Aba, iseng saja bilang ke Aba "Aba berani jual pisang, tidak? . Aba pun merespon "Beraaaniiii" (sambil senyum dan menata